3 Tips Melatih Kemampuan Berpikir Anak

Biasanya anak yang dapat berpikir kritis memang tidak percaya begitu saja pada sebuah informasi yang diterimanya. Terlebih lagi apabila sumber dari informasi tersebut belum diketahui benar oleh Anak.

Sebab, anak yang berpikir kritis mempunyai kecenderungan untuk mencari kejelasan atas suatu sumber informasi atau pendapat. Jika perlu, mereka pun mencari-cari bukti yang bisa menunjukkan keakuratan dan ketepan inmformasi yang mereka peroleh.

Jadi, buah hati juga memiliki sikap analitis, yaitu penyelidikan terhadap suatu peristiwa yang bertujuan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Anak yang berpikir kritis juga mempunyai kemampuan problem solving yang merupakan kemampuan yang dimiliki anak dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Anak yang berpikir kritis bisa menemukan dan mempertanyakan hal-hal yang tidak dipahami olehnya.

Dia juga bisa menemukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Kita pun mungkin akan terkejut ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka.

Misalnya saja si anak bertanya,

“Kenapa orang dewasa boleh tidur larut malam sedangkan anak-anak tidak boleh?”
“Kenapa kupu-kupu suka bunga?”
“Kenapa orang suka minum kopi yang rasanya pahit?”

Perlu diketahui bahwa pemikiran kritis anak-anak berbeda dengan orang dewasa, tentang isi dan kompleksitasnya.

Nah, untuk bisa mengembangkan kemampuan berpikir pada anak, kita bisa melakukan beberapa hal seperti di bawah ini.

3 Tips Melatih Kemampuan Berpikir Anak

1. Mengajak anak untuk berandai-andai.

Kita bisa mengarahkan anak untuk mengandaikan peristiwa yang mungkin terjadi meskipun belum pernah mereka alami. Misalnya saja, anak diminya untuk membayangkan seandainya tidak ada pohon dan air, apa yang akan terjadi dan sebagainya.

2. Mengajak anak untuk belajr menemukan kesalahan.

Misalnya saja kita menyodorkan gambar yang kurang lengkap kepada anak, dan menanyakan apa yang salah dengan gambar tersebut dan bagaimana seharusnya yang tepat.

3. Mengarahkan anak untuk melengkapi cerita yang kurang.

Berikanlah anak sebuah cerita yang belum lengkap, kemudian mintalah anak untuk menemukan bagian cerita yang tidak lengkap atau hilang tersebut.

Advertisements